Dinas ESDM Jatim Pasang Ekstensometer diPonorogo


KANALPONOROGO - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral(ESDM) Provinsi Jatim memasang satu buah alat deteksi gerakan tanah (Ekstensometer) di sebuah titik terpilih di Dusun Joso, Desa Wates, Slahung, Ponorogo, Jumat (05/12/2014).

“Pemasangan alat ini menjadi bagian dari mitigasi atau antisipasi dan penanggulangan bencana tanah retak dan longsor yang terjadi di sekitar Desa Wates ini. Banyak jiwa yang bisa diselamatkan dengan antisipasi yang baik,” ujar Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono.
           
Dikatakannya, alat ini akan mengukur pergeseran atau pergerakan tanah yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Dari data yang diperoleh, bisa dijadikan pertimbangan untuk melakukan sebuah tindakan terutama terkait adanya bencana longsor. Alat ini juga akan memberikan peringatan dini berupa sirene yang akan mengeluarkan bunyi dengan interval nada yang berbeda-beda pada masing-masing level pergerakan.
           
Selain di Wates, sudah dua ekstensometer yang dipasang di Ponorogo. Yaitu di Desa Talun, Kecamatan Ngebel dan di Desa Grogol, Kecamatan Sawoo. Keduanya telah dipasang sejak beberapa tahun lalu terkait terjadinya longsor di lokasi tersebut.

Alat ini juga disertai dengan pengukur curah hujan sehingga faktor penyebab tanah longsor juga bisa dideteksi lebih akurat. Alat ini dioperasikan dengan listrik dari solar sel dan dilengkapi modem yang berhubungan dengan sejumlah komputer.

Teknisi pemasangan ekstensometer dari Dinas ESDM Provinsi Jatim Ahmad Setya menerangkan, alat yang dipasang tersebut akan menghimpun data pergerakan tanah setiap satu menit. Setelah data terkumpul selama 60 menit atau satu jam, data akan dikirim ke pusat monitoring untuk dianalisa.

Ada tiga pusat monitoring yang akan mendapat data tersebut. Yaitu komputer data di Dinas ESDM Provinsi Jatim, komputer data Bagian ESDM Dinas Pekerjaan Umum Ponorogo dan di komputer data BPBD Ponorogo.

“Mereka akan sinergi melihat data dan melakukan langkah yang bisa diambil,” ujarnya.

Ekstensometer yang ada di Desa Wates disetel dengan angka pemantauan standar yang ditetapkan Dinas ESDM Provinsi Jatim. Untuk level I, angka kritisnya adalah pergeseran sejauh 36 mm atau sekitar 4 cm. Sirene akan berbunyi dengan selang waktu sekitar satu detik selama satu menit.

Untuk level II, angka kritisnya adalah pergeseran 63 cm atau sekitar 7 cm. Suara sirene juga akan berubah dengan interval lebih pendek selang waktunya selama satu menit.

Sedangkan angka kritis level III adalah pergeseran sejauh 126 mm atau sekitar 12 cm. Untuk level ini, sirene akan kerap selang waktunya selama 15 menit.

“Angkanya akan dibaca di pusat monitoring, nah suara sirene akan memberi tahu warga. Jadi selain data di komputer, kabar dari warga juga bisa jadi peringatan. Tapi angka ini bisa diatur lagi sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ditambahkanya, seluruh Jawa Timur, ekstensometer yang dipasang telah mencapai 47 buah. Semuanya dipasang di daerah rawan longsor dan tanah gerak.@arso



ADS

No comments:

Write a Comment


Top